REISYA'S LIFE
(Oleh : Fajar Apriliani)
Jajaran boneka mahal tersusun rapi didalam lemari kaca, fotofoto
terbungkus figura cantik yang menghiasi dindingdinding kamar, dan sofasofa
kecil yang mengisi salah satu sudut kamar. Sedikit demi sedikit mulai kehilangan
keindahannya.
Beberapa serpihan kaca jatuh dari atas meja. Dibawah pancaran cahaya
lampu
terlihat sepasang mata biru yang hidup dalam kegelapan. Kakinya tepat
berdiri di
samping serpihan kaca. Kemudian ia mulai mengelilingi ruangan
tersebut. Tak lupa
tangannya sambil meraba-raba
benda disekelilingnya.
BRAAAKKKKK.
.
Tibatiba, kepalanya mulai mengeluarkan darah setelah ia tak sengaja terbentur
dinding. Dari arah pintu masuklah wanita paruh baya. Ia masuk dan
kemudian langsung
menghampiri gadis malang tersebut. Wanita paruh baya itu hanya bisa
mengelus dada
setelah melihat kondisi putri kesayangannya itu. Wanita tersebut
langsung memeluknya
dan air matanya tak disengaja keluar dari mata birunya yang indah.
Wanita paruh baya
itu membawa putrinya duduk diatas sofa dan segera mengobati luka
dikepalanya.
Beberapa menit kemudian, wanita tersebut berjalan menuju dapur untuk
mengambilkan
makanan. Sedangkan putrinya duduk diatas sofa sedikit pun tak
mengeluarkan kata-kata.
Didalam dapur, masih terdengar isakan tangisan yang berasal dari suara
wanita
tersebut, yang biasa dipanggil Mamah Mia. Ia selalu teriris hatinya
ketika melihat
putrinya hidup dalam kegelapan. Sedikit demi sedikit, dapur tersebut
mulai dipenuhi
kesedihan. Ia berusaha tegar dengan semua yang terjadi oleh putrinya.
Tak lupa, ia
juga berusaha menyembunyikan kesedihannya di depan putri kesayangannya
itu,
Reisya namanya. Setelah itu ia mulai menuju kamar Reisya dengan
membawa makan
siangnya yang masih hangat.
Sesampainya didepan pintu kamarnya Reisya, tubuhnya tiba-tiba
mulai lemas dan seakan-akan tak mau masuk kekamar tersebut. Namun, walupun begitu ia harus
tetap masuk. Ia berusaha mengembalikan tubuhnya yang lemas dan menahan
semua
kesedihan dihatinya.
"Reisya.", wanita paruh baya itu memanggil namanya dengan nada
lembut.
"Iya, mamah. Aku disini.", sahut Reisya.
Wanita paruh baya itu kemudian jalan menuju putrinya dan menyuapi
makanan
yang sudah ia bawa. Sambil menyuapi, ia mendongengkan sebuah cerita
yang dapat
menghibur putrinya itu. Tak lama kemudian, Reisya mulai dilanda rasa
kantuk. Dengan
segera mamahnya menyuruhnya untuk naik ketempat tidur dan tidurlah.
Dimalam harinya..
"Kau sudah bangun, putriku", tanya si mamah.
"Sudah, mah", jawab Reisya.
"Ayo putriku bergegaslah, papah dan mamah akan mengajak kau ke
suatu
tempat.", kata Pak Leo yang tak lain adalah papahnya sendiri.
"Kita mau kemana, pah?", tanya si Reisya.
"Kami akan mengajak kau ke suatu tempat yang dapat membuatmu
bahagia,
ayo, putriku.", jawab papahnya.
"Iya, pah." ucap Reisya.
Setelah bersiap-siap, mereka keluar dari rumah dan masuk ke mobil yang sudah
dikeluarkan dari garasi oleh papahnya. Dengan perasaan penuh tanya si
Reisya masuk
kedalam mobil dan ia mengenakan jaket karena udara di malam itu
sangatlah dingin.
Tak disangka, rupanya orang tuanya memberikan sebuah kejutan yaitu
membawanya ke Rumah Sakit ternama dikota tersebut untuk melakukan
operasi mata.
Operasi mata membutuhkan biaya yang dapat dibilang cukup besar.
Tetapi, ini tidak
menjadi masalah untuk keluarga mereka. Papahnya merupakan seorang
pengusaha
terkaya didaerahnya yaitu di Jakarta. Sedangkan, mamahnya merupakan
anak dari
pemimpin salah satu perusahaan di Belanda, dan ia merupakan keturunan
belanda.
Sesampainya di Rumah Sakit, si Reisya tanpa banyak mengeluarkan
katakata
dibawa oleh beberapa orang yang berseragamkan putih menuju ke ruang
operasi.
Diruang operasi, barulah si dokter memberitahu semuanya kepada Reisya.
"Apakah kau sudah siap Reisya?", tanya pak dokter dengan
senyum yang
lebar.
"Siap untuk apa? Tunggu dulu, sepertinya aku mengenali suaramu,
bukankah
kau ini dokter Rian?", sahut Reisya dengan penuh tanda tanya
besar dibenaknya.
"Iya, kau memang benar aku dokter Rian. Sekarang kau berada
didalam
ruang operasi. Sebentar lagi, kau akan mendapatkan kebahagian lagi
yang akhirakhir
ini hilang dari kehidupanmu.", katakata
manis yang terucap dari mulut dokter Rian.
"Apakah kau serius dokter? Apakah kau saat ini sedang tidak
bergurau dokter?
Ayo katakan dokter!", jawaban Reisya setelah mendengar ucapan
dokter Rian tadi.
"Iya, aku serius. Aku tak pernah mainmain."
ucapan dokter Rian.
"Iya benar dokter? Alhamdulillah.", sahut Reisya dengan
perasaan sangat
gembira.
Diluar ruang operasi, orang tuanya mencemaskan hasil operasi ini.
Mereka selalu
berdoa agar operasi putri kesayangannya berhasil. 45 menit kemudian,
datanglah
kakek, nenek, paman, dan bibinya Reisya. Mereka ikut menunggu operasi
Reisya.
Mereka juga mendoakan seperti doa kedua orang tuanya. Semua yang
menunggu
dilanda perasaan khawatir dan cemas. Sedangakan, didalam ruang operasi,
pak dokter
dibantu oleh beberapa suster sedang berusaha matimatian mengoperasi mata seorang
gadis yang tidak dapat melihat lagi sejak beberapa minggu yang lalu.
Sekitar 4 jam kemudian, Dokter Rian keluar dari riang operasi dengan
senyumannya. Ia mengatakan ucapan selamat karena operasi matanya
Reisya berjalan
dengan lancar dan berhasil. Perban dimatanya dapat dibuka setelah 3
hari kemudian.
Semua orang yang menunggu diluar ruangan serentak mengucapkan
"Alhamdulillah.".
Bahkan kedua orang tuanya sampai meneteskan air mata mendengarkan
perkataan
dokter tadi.
"Reisya, putriku, dalam beberapa hari kau akan dapat melihat
lagi.", kata
papah dengan penuh gembira.
"Iya, sayang. Sebentar lagi, kau akan keluar dari dunia gelapmu
akhir mingguminggu
ini. Serta, kesedihan yang pernah kau rasakan tidak akan kau rasakan
lagi.",
ucapan mamah sambil meneteskan air mata karena tak kuat menaham
kebahagiaan.
"Iya, mah, pah. Aku juga sangat senang. Akhirnya, aku dapat
melihat lagi. Aku
tidak lagi merepotkan kalian berdua. Makasih mah, makasih pah, Reisya
sayang kalian
berdua.", jawab Reisya.
Hari berganti begitu cepat, hingga tak disadari hari yang
ditunggutunggu
pun tiba, yaitu hari dimana perban yang menutupi mata Reisya dilepaskan.
"Mamah.. Papah.. Aku udah bisa melihat lagi", kata yang
terucap dari mulut
Reisya setelah beberapa detik perban tersebut dilepas.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Kau kembalikan kebahagiaan
keluarga
kecil kami lagi.", rasa syukur mamah atas Reisya yang dapat
melihat lagi.
Mereka pun pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, tak disangka
papahnya
telah memberikan kejutan untuk putrinya, yaitu sebuah roti tar dan
rumah dihias
sehingga begitu sangat menarik. Harihari selanjutnya, mereka bertiga hidup bahagia
dan tidak pernah merasakan kesihan lagi. Mereka hidup bahagia
selamanya.